SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Metro (2/5) Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei, hari yang merefleksikan tentang perjuangan seorang guru dan pendidikan di bumi pertiwi. Seorang sosok luar biasa yang memberikan dominasi untuk pendidikan nasional. Ki Hajar Dewantara.

Sosok Ki Hajar Dewantara tidak bisa kita lepaskan dari perjalanan panjang pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara merupakan pioner dan pelopor terbentuknya sistem pendidikan di Indonesia. Keberadaannya dalam menentang penjajahan Belanda adalah dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa. Dengan mendirikan perguruan tersebut ia bercita-cita agar bangsa Indonesia merdeka lahir batin. Pemikirannya sangat relevan sebagai sebuah terobosan dalam membangun pendidikan saat ini yang dalam keadaan kritis. Semboyannya yang terkenal ialah :

  • Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan),
  • Ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa),
  • Ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan).

Bagian depan dari semboyannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Ketiga semboyan ini apabila kita maknai serta hayati bersama merupakan akar dan ujung tombak dari peran serta guru dalam menjalankan roda pendidikan nasional. Semboyan ini sejalan dengan yang diutarakan oleh Abidin (2015) bahwa tugas dan fungsi guru didalam kelas tidak hanya transfer knowladge, melainkan inti dari tugas guru adalah mengembangkan, mengarahkan, dan memberimotifasi. Makna ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan) seyogianya dimaknai sebagai guru mampu memberikan contoh yang baik dalam berbagai dimensi.

Sifat, perilaku, penampilan, tutur kata, sopan santun dan lain sebagainya dalam hal ini adalah bagian dari suatu paket yang harus guru contohkan. Pepatah mengatakan bahwa “guru kencing berdiri, maka siswa kencing berlari. Jadi apabila fenomena hari ini menunjukan bobroknya mental di kalangan pelajar kita, maka sepatutnya kita merefleksikan kepada diri kita apakah kita sudah benar-benar memberikan contoh yang baik bagi siswa. Sebab faktanya pendidikan negeri ini belakangan banyak diguncang dan dhadapkan pada kasus-kasus seperti asusila, kekerasan, narkotika, tawuran, bullying, dan masih banyak lagi sederet cerita panjang betapa lembaga pendidikan kita hari ini sering sekali dirundung duka. Semboyan berikutnya adalah ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa).

Menurut pandangan penulis guru hari ini tidak zaman nya lagi untuk gengsi bercengkrama dengan siswa. Apalagi menunjukan sikap membatasi diri dan menganggap siswa adalah sosok makhluk yang lebih rendah daripada gurunya. Semboyan ini memberikan rambu-rambu kepada kita bahwa sebagai guru harus mampu ampil sebagai sosok teman atau sahabat yang baik ditengah-tengah siswa. Apalagi apabila kita berbicara mengenai pendidikan dasar atau lebih spesifik kepada pendidikan sekolah dasar. Anak-anak terkadang jauh lebih peka dibandingkan dengan orang dewasa. Anak-anak adalah peniru/imitator ulung. Apa yang dia lihat dan dia dengan apalagi apabila muncul dari sosok yang bisa dikatakan dijadikan sebagai panutan, maka apapun yang keluar dari sosok panutan itu adalah akan dijadikan sebagai acuan. Berikutnya adalah tut wuri handayani, tentunya selayaknya seorang guru harus senantiasa memberikan motivasi positif kepada seluruh siswanya.

Hakikatnya manusia mempunyai kebutuhan lain, yakni salah satunya adalah motivasi. Guru harus mampu membangkitkan semangat dan gairah siswa demi mewujudkan asa dan cita-citanya. Artinya bahwa seorang guru seyogianya mampu memberikan stimulus-stimulus positif kepada siswa sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Guru membantu siswa untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuankemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *